siginews

Ini Dampak Nyata Penggunaan Gawai Berlebihan pada Anak

Reporter : Redaksi

Nasional

Rabu, 22 April 2026

Waktu baca 2 menit

Ini Dampak Nyata Penggunaan Gawai Berlebihan pada Anak

siginews.com-Jakarta – Penggunaan gawai atau gadget yang berlebihan pada anak, memiliki dampak nyata bagi tumbuh kembang anak.

Dokter keluarga dr Imelda Nainggolan mengatakan, dampak nyata penggunaan gawai berlebihan terhadap anak tidak hanya menggangu mata, tetapi juga dapat menimbulkan masalah kesehatan mental, gangguan tidur, hingga obesitas.

“Anak yang terlalu lama berada di depan layar cenderung mengalami gangguan emosi, mudah marah, dan kualitas tidurnya menurun. Hal ini berdampak panjang pada perkembangan otak dan mental mereka,” terang dokter Imelda, melalui siaran pers yang diterima siginews.com, Rabu (22/4/2026).

dr Imelda yang hadir di Podcast JP Talk, dan juga dihadiri Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra, juga menyampaikan respon terhadap penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Perlindungan Anak di Ranah Digital atau PP Tunas. Menurutnya, kebijakan ini ibarat ‘sabuk pengamanan’ bagi anak-anak saat berselancar di dunia digital. Namun, Imelda mengingatkan bahwa, peran orang tua tetap krusial.

“Pembatasan (penggunaan gawai oleh anak) harus diiringi dengan pendampingan. Orang tua perlu membangun komunikasi, memahami minat anak, dan menyediakan alternatif aktivitas seperti olahraga, membaca, atau kegiatan kreatif,” tuturnya.

Berdasarkan data KPAI menunjukkan situasi yang mengerikan. Sekitar 80 ribu anak usia 8–10 tahun terindikasi terdampak judi online (judol), sementara hampir 5 juta anak Indonesia terpapar konten pornografi di internet—angka tertinggi di Asia. Selain itu, rata-rata anak menghabiskan waktu 5 hingga 7 jam per hari di depan layar, melampaui batas yang direkomendasikan.

Iklan Wirajatimkso - Potrait

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menerangkan, PP Tunas telah menegaskan bahwa, tanggung jawab perlindungan anak tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan platform digital. Negara berperan sebagai pemegang kewajiban utama, sementara orang tua dan lingkungan menjadi pihak yang ikut bertanggung jawab dalam implementasinya.

Meski demikian, para pihak sepakat bahwa PP Tunas bukanlah solusi tunggal. Diperlukan kolaborasi lintas sektor serta peningkatan literasi digital bagi orang tua dan anak.

“Perlindungan anak di dunia digital bukan hanya soal membatasi akses, tetapi memastikan mereka tumbuh sehat secara fisik, mental, dan sosial,” kata Jasra.

Dengan diberlakukannya PP Tunas, pemerintah berharap dapat menekan berbagai risiko kejahatan digital. “Sekaligus menyiapkan generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan era digital di masa depan,” jelasnya.

(roi)

#dr Imelda Nainggolan

#Ini Dampak Nyata Penggunaan Gawai Berlebihan pada Anak

#Nasional

#Pendidikan

#PP No 17 Tahun 2025

#PP Tunas

#rekomendasi

#Wakil Ketua KPAI Jasra Putra

image ads default
Pasang Iklan di Sini
Jangkau ribuan pembaca setia setiap hari. Jadikan iklan Anda pusat perhatian.